aku melihat ada bayangan pohonan di wajahmu, wanita! dan dari semak yang diapit dua pahamu yang lencir, aku dapat mencium bau itu begitu menyengat. seperti pupuk kandang yang masih hangat, bukankah 18 purnama telah kau lalui dengan kesepian yang sempurna!!
kau melolong bersama malam, bersama pohon-pohon yang meregang nyawa. sampai kapan kau menunggu pemerkosa hutan itu kembali rapatkan tubuhnya padamu???
cinta..jangan tunggu sampai rahimmu kering dan gersang sampai tak dapat lahirkan kata-kata. sepi melebur malam, kau kembali mencatat malam-malam kemarau. menyanyi dendang rindu di tengah kegerahan. telah 8bulan lamanya ‘laki-laki’ itu tinggalkan kau dalam panantian.
“apa yang kau pikirkan sayang?” tanyaku
“bisakah kau lukiskan kembali langit lengkap dengan rembulan dan tubuh perawan?” jawabmu

